Jumat, 08 Agustus 2014
Senin, 04 Agustus 2014
The First Day after LEBAR-an
Moarningggg Marunda sekitarnya~
Selamat Pagi Dunia,
Siapa yang sudah siyap beraktifitas kembali?
Aku siyap aku siyap!
Momon (motor beat putih kesayangan) udah cantik dan sehat (abis servis cyin!) siap mengarungi kerasnya perjalanan Banjir Kanal Timur, yang serunya buat 80km-an.
Aku sendiri pun sudah siap lahir dan batin untuk mulai bekerja dan beraktifitas kembali untuk mencari sesuap
Momon (motor beat putih kesayangan) udah cantik dan sehat (abis servis cyin!) siap mengarungi kerasnya perjalanan Banjir Kanal Timur, yang serunya buat 80km-an.
Aku sendiri pun sudah siap lahir dan batin untuk mulai bekerja dan beraktifitas kembali untuk mencari sesuap
![]() |
| Timing for lunch with ketupatan dan oporayaman |
Kamis, 24 Juli 2014
1435 H
Kamis, 17 Juli 2014
Puncak Tertinggi Jawa ~ Mahameru
Menikmati
keindahan Oro oro ombo dari Cemoro Kandang, membuat aku terpaku akan
lukisan Illahi, Subhanallah, Alhamdulillah mata ku masih di beri Nikmat
Luar biasa indahnya.
Haii Momon, are you ready to Mt Mahameru?
Yes, Im ready, go go gooooo
Kira-kira
2 jam perjalanan dengan track yang terus menerus semakin tinggi, namun
banyak bonusnya, alhamdulillah. Sampailah aku pada Kalimati, yang
menurut para pendaki, Kalimati memeluk dengan kebekuannya. Waktu
menunjukkan pukul 5 sore, suhu udara semakin dingin, menelusup saja ke
dalam tenda yang sudah di siapkan oleh Panitia yang sudah sampai lebih
dulu.
Di
dalam tenda, kami bercengkrama, sedikit tidur, namun tetap tidak bisa,
karena terlalu sempit untuk selonjoran atau sekedar meluruskan kaki.
Menunggu pukul 9 malam untuk memulai pendakian menuju Puncak Mahameru.
Pukul 10.00 malam waktu Kalimati
Memulai
pendakian menuju Puncak Tertinggi di tanah Jawa, Mahameru. Rute kali
ini melewati jalur baru yang di nilai lebih ekstrim dibandingan jalur
lama. Di sini sudah menemukan track berpasir dan tidak ada bonus sama
sekali. Perbekalan yang kubawa hanya tas kecil berisikan obat-obatan,
sedangkan air minum dan cemilan di bawa oleh Faiz dan Saga, adik-adik
unyu kedua setelah gengers berempat yang ku temui sepanjang perjalanan
menuju Puncak.
Keindahan
menuju Puncak sungguh menjatuhkan beberapa butiran air mata dan
keegoisan hati untuk terus melangkah tanpa memikirkan badan yang sudah
hampir menyerah di seperempat perjalanan. Naik 4 langkah turun 6 atau 8
langkah itu memang benar adanya. Terlebih batuan yang tidak kekal
menyatu dengan pasir, sehingga mudah terjatuh dan membahayakan pendaki
yang berada tepat dibawahnya.
30 Juni 2014
Track Mahameru~
Mengantuk?
Sungguh
sangat pusing ketika mata tidak sinkron dengan tekad hati yang ingin
sekali menggapai Mahameru. Terkadang istirahat di pinggiran batu,
sekedar bersembunyi dari dinginnya Subuh di Mahameru.
Kapan Sang Surya muncul?
Aku menantikan kehangatannya
Air mata ini sudah mengalir dikit demi sedikit seiring dengan kurangnya Oksigen di sini, karena terlalu dingin dan lelah
Aku terus menggapai butiran pasir dengan sesekali salah menggenggam batu yang akhirnya menggelinding ke bawah
"Awas batu" teriak diri ku yang merasa bersalah apabila batu tersebut melukai pendaki lainnya.
Yaa memang begini prinsip mendaki Mahameru, tidak sedikit pendaki yang menyerah bahkan terluka akibat kehilangan fokusnya untuk mendaki, karena terlalu lelah dan tekadnya hampir melemah.
"Ya Allah, jika Engkau mengijinkan hamba berdiri di atas sana, kuatkanlah, jika Tidak, tetap Kuatkanlah hati hamba-Mu ini untuk tetap bisa mendaki hingga Puncak" (doanya tetep keras kepala yaa pengen sampe Puncak :D)
"Kak, masih kuat gak? Atau mau turun?" tanya Faiz yang tak tega melihat wajah pucat ku.
"Kalian lanjut aja, nanti aku menyusul" jawab ku terbata-bata dan ketakutan melihat ke bawah *ku sadari~ semua jalankuuuu~ bukan itu lagunya Rosa!
Baru ku sadari, aku phobia ketinggian di Mahameru.
"Ga bisa gitu kak, kita harus tetep sama-sama" seru Saga yang setia tetap di belakangku, sementara Faiz berada di depan barisan untuk menarik tangan ku.
"Oke, Batu besar itu, aku ke sanaaa" teriak ku dengan semangat sambil menunjuk Batu Besar di Puncak.
Pelan-pelan tapi pasti sampailah aku di Batu Besar tersebut, lalu aku tertipu lagi, ternyata masih ada tanjakan berkelok barulah Puncak Berpasir itu terlihat.
![]() |
| Akhirnya aku menemukan mu, Wedus Gembel Mahameru~ ciumin satu-satu pasirnya |
![]() |
| Thanks to All, ade-adean gue di pojok Kanan, Faiz, pojok Kiri Saga |
![]() |
| Thanks to Allah SWT |
![]() | ||
| Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, I love Allah, terima kasih atas kekuatan dan doa yang kau kobul :3 |
![]() |
| Momon already to action with Wedus Gembel, aakkks, thanks to Momon, you are my spirit! |
Aku sampai di Puncak Mahameru!
*ini mimpi atau bukan*
Tepok tepok pipi.
"Kak, ga jadi tidur?" tanya Faiz.
"Haha, tadi bertekad buat tidur kalo udah nyampe di atas" ketawa licik Saga.
"Iya, gimana mau tidur, udah ada wedus gembel, haha" ngeles aja kaya bajaj, iya sepanjang perjalanan aku selalu bilang pokoknya mau tidur!
Singkat cerita, lalu aku mengkhawatirkan gimana cara turunnya?
Gampang. Tinggal telapak kaki depan buat merosot, telapak kaki belakang buat ngerem.
Teori hanyalah sebatas itu, prakteknya, nyiksa cyiinn~
Sepatu unyu guehh penuh dengan pasir Mahameru.
Jangan membawa apapun selain Foto.
Oke, di sini, malahan pasirnya yang minta ikut pulang. Secara mereka (pasir-pasir nakal) masuk tanpa ijin ke dalam sepatu. Kaos kaki warnanya putih berubah jadi abu dan robek=robek, sarung tangan langsung di buang setibanya di Ranu Pane.
Pukul 1 siang waktu Kalimati
Aku, Faiz dan Saga menikmati hasil jirih payah kami menggapai Mahameru sambil mengurut-urut kaki dan packing untuk langsung turun ke Ranu Pane, demi mengejar tiket kereta mereka di pukul 11 siang besok tanggal 1 Mei 2014. Sedangkan aku, mengejar apa?
Mengejar kamu~ uwuwuwu.
Sepertinya kita akan sampai pada malam hari di Ranu Pane. Benar sajaaaaa, setelah lari-larian dari Kalimati - Ranu Kumbolo, sudah sore sekali. Lanjut turun tertatih dan penuh semangat akan melahap Bakso Malang di Ranu Pane.
Pukul 12.00 malam waktu Ranu Pane
Alhamdulillah..
*nangis lagi* cengeng bener!
Di desa ini, ada rumah penduduk yang baik hati menyediakan tikar untuk pendaki beristirahat menunggu pagi. Tetapi tidak include dengan kamar mandi. Memaksa aku untuk berjalan (lagi) menuju kamar mandi di pojokkan sana.
"Kak, ayo kita bersih-bersih" ajak Faiz yang sudah malas mengajak Saga, dia tidak mau mandi dengan alasan dingin. Hih.
Ada cerita Horror di sini *lurusin jari tangan yang kelelahan mengetik di sela jam kantor ketika atasan sedang keluar kantor, haha*
Pukul 1 malam, aku dan Faiz memberanikan diri ke toilet di paling pojok, karena di sini tidak bau seperti kamar mandi sebelahnya. Aku masuk terlebih dahulu dengan bermodalkan headlamp yang dipengangi Faiz, karena disini sama sekali tidak ada penerangan!
"Faiz, kenapa lampunya digoyang-goyang, kan gelap!!" teriak ku.
"Cepetan kak !!" seru Faiz dengan tegas.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkan hal aneh dengan Faiz memainkan headlamp tersebut. Sampai suatu saat aku yang bergantian memegangi headlamp dan Faiz berbersih diri di dalam sanaa.
Aku ditemui bayangan hitam bolak-balik persis di depan tembok yang aku sinari headlamp. Dengan bodohnya, aku menoleh kebelakang, untuk melihat ada orang yang lewat atau tidak?
Hellow delviiiiii.
Teorinya, ada sinar lampu lalu ada bayangan, otomatis bayangan itu berasal dari benda yang berada persis di depan headlamp tersebut!
Udah ngerti belom?
Sampe ke-3 kalinya bayangan besar itu mondar mandir, baru aku menyadari bahwa ada makhluk halus yang lewat di depan sinar headlamp yang ku pengangi. Yasalammmmmm, merinding!
Seketika Faiz keluar, aku langsung ingin buru-buru cerita, tetapi gak boleh sama Faiz, katanya besok Pagi aja. Haha. Setelah aku ketahui keesokan paginya, ternyata Faiz juga merasakan hal yang sama, itulah alasan dia memati-nyalakan headlampnya. Huhu.
Rabu, 16 Juli 2014
3.676 Mdpl
Mt. Semeru starting~
27 Mei 2014
Pukul 8 Pagi - St. Cakung
Yaa memang baru kali ini lagi aku menginjakan kaki di stasiun (padahal sering sekali lewat). Sambil menunggu kabar dari ke 3 cabe dan terong. Iya, anak-anak muda sebaru lulus SMA yang ingin ikut-ikutan film 5cm. Fiuh~ aku harus menggiring ke 3 anak ini bagai anak sendiri. Menuntunnya menuju stasiun kota, padahal aku sendiri tidak tahu prosedur per-keretaapi-an :|
Hingga pukul 9 KRL menuju kota meluncur.
"Mohon kehadirannya segera di Starbucks ya" begitulah bunyi sms dari panitia Track Mountain. Dalam hati, oke kita baru mau naik.
27 Mei 2014
Pukul 8 Pagi - St. Cakung
Yaa memang baru kali ini lagi aku menginjakan kaki di stasiun (padahal sering sekali lewat). Sambil menunggu kabar dari ke 3 cabe dan terong. Iya, anak-anak muda sebaru lulus SMA yang ingin ikut-ikutan film 5cm. Fiuh~ aku harus menggiring ke 3 anak ini bagai anak sendiri. Menuntunnya menuju stasiun kota, padahal aku sendiri tidak tahu prosedur per-keretaapi-an :|
Hingga pukul 9 KRL menuju kota meluncur.
"Mohon kehadirannya segera di Starbucks ya" begitulah bunyi sms dari panitia Track Mountain. Dalam hati, oke kita baru mau naik.
Track Mountain adalah sebuah komunitas yang aku kenal melalui Twitter. So, pede aja kepengen ikutan gabung ketika melihat history misi perjalanan mereka untuk Camping Ceria yang sudah-sudah. Rundown acaranya pun cukup jelas. Mari kita lihat fakta apa yang terjadi dalam Camping Ceria kali ini :D
Aku baru sekali masuk kereta. Ahaha. Baiklah didalam sana kita saling
liat-liatan bawaan masing-masing. Karena mereka ber3 pemula, jadi
langsung ngoceh seperti ini:
"Kaka, kenapa santai banget?" Belum selesai Kartika gerutu, Dika melanjutkan "Kita bawaan banyak banget, ah Mamah sih nih".
Ya salam kenapa aku harus mengalami hal ini, harus menjelaskan dengan rinci setiap centinya pertanyaan mereka. Pukul 10.30 kami tiba di stasiun Kota. Sudah terlihat beberapa sosok yang menjadi teman sepanjang 7 hari ini, ada yang kribo, ada yang kurus, ada yang gendut (ngaca), dan lain-lain bentuk rupa manusianya.
"Kak, ayo kita benerin isi daypack aku" ajakan dari Rapim, sosok laki-laki muda, rapih, tampan dan anak mami.
Bayangkan saja, dia membawa baju ganti sebanyak 8 atas dasar nasihat mamah. Berhubung ini perdana, aku hanya ingin mengingatkan dibawa yang penting-penting saja, baju ganti secukupnya, karna seiring track baju akan basah dan kering di badan *falsafah training military*. Setelah semuanya selesai satu persatu aku reparasi ulang supaya memudahkan mereka, tiba saatnya berangkat menuju kota Surabaya. Seiring perjalanan aku menaiki kereta api, oh sungguh senangnya karena aku jarang sekali menaiki~ jugijagijugggg
Kendaraan panjang ini. Berawal dari seru-seruan didalam kereta. Ada Alip, Ba, Ta, Tsaa~ bukan itu delv *keplak*. Alip, mahasiswa PLN Cengkareng yang menjadi guide kita berempat dalam
pendakian kali ini. Setelah aku telusur, aku lah yang paling disoraki
sebagai 'kaka' karna mereka lahiran dibawah 90an. Hah, si Jenne aja gak
di gituin, mereka terlalu memfavoritkan aku *ditoyor kembali* ahahaha.
Setibanya di Bekasi aku ingin sekali mengecek rahang pipi apakah sudah kurusan atau belum? Karena selalu terbahak tertawa ketika melihat tingkah laku Alip. Sosok gendut hitam manis dan gembul~
Kurang lebih perjalanan menuju Kota Surabaya sekitar 14 jam. Ngapain aja?
Tidur, makan, tidur. Makan apa? Emang ada makanan? Pastinya perbekalan mendaki. Haha.
Pukul 02.00 pagi tiba di Kota Arek-Arek Suroboyo
28 Mei 2014
Pukul 06.00 WIB - Ps. Tumpang, Malang
Pukul 06.00 WIB - Ps. Tumpang, Malang
Rasanya mata sudah berat sekali untuk melihat indahnya Kota Surabaya semalam, karna ini sudah menjelang subuh. Pemandanganyang terlihat hanyalah sebuah Truck, akomodasi selanjutnya untuk menuju Tumpang, Malang. Jujur saja, seperti Sapi atau Kambing bila naik Truck dengan kondisi melebihi batas maksimal orang yang harus masuk di dalamnya. Terlebih sudah 14 jam terpenjara dalam kereta ekonomi, kaki harus terpaksa di lipat kembali di dalam Truck selama kurang lebih 3 jam perjalanan *elus-elus kaki*
Setelah berdiri, jongkok, terlelap, sampai bingung mau ngapain lagi, okee fine. Alhamdulillah sampai juga di Pasar Tumpang, Malang. Persis depan trotoar ada Alfamart, surga dunia Ya Allah, aku mau pipis, cuci muka, dan makan :D
Sekitar 3 jam lebih kami para peserta menunggu keberangkatan menggunakan Jeep menuju Ranu Pane. Rasanya langkah kaki sudah tidak sabar melihat gumpalan wedus gembel yang menari-nari di balik Mahameru. Track Mountain pun rasanya sedang kebingungan dan belum siap dengan akomodasi yang akan membawa kita menuju Pos Ranu Pane.
Panitia pun membagikan nasi jamblang khas Malang. Sambil sarapan, kita (aku, rapim, kartika, dan diki) narsis menggunakan tongsis. Beginilah penampakannya~
Panitia pun membagikan nasi jamblang khas Malang. Sambil sarapan, kita (aku, rapim, kartika, dan diki) narsis menggunakan tongsis. Beginilah penampakannya~
Keliatan kaan betapa masih unyu-unyu nya gueehh!
Jadi, prosedur barunya (lagi-lagi bawa Prosedur disaat liburan, ppft) kita harus naik angkot dulu sampai pada sebuah Menara, tempat berhentinya mobil jeep ataupun truck untuk membawa pendaki menuju Desa Ranu Pane.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah aku di Desa Ranu Pane. Desa yang terletak di ketinggian 200 m lebih ini sungguh indah, bagaikan anugerah yang besar dari Allah SWT bila tinggal di sebuah desa yang dingin, sejuk, penuh dengan hasil tani, terlebih bisa menikmati indahnya gunung-gunung di Jawa Timur.
Desa Ranu Pane~
Pukul 12.00 Desa Ranu Pane
Cariel pun memaksa untuk lepas dari punggung ku *kebalik kali yaa
Meskipun desa, tapi di sini banyak sekali jajanan. Berikut list harganya, untuk foto, uwuwuu saking nikmatnya makan, jadi ga kepikiran buat foto.
Bakso malang di warung paling pojok Rp. 15.000,- udah pake nasi loh!
Pecel + Bakwan Jagung Rp. 7.000,- di warung yang ada Es Campurnya.
Nasi Rames yaa standard laah Rp. 10.000,-an, telor ceplok, mie goreng, dan teman-temannya tapi sedikit.
Jadi, cerita mendakinya kapan? Kalo makanan yang diperjelas, hahahks.
Setelah panitia mengurusi Simaksi, memberi makan peserta, mandi-mandi cantik, ini sih molor banget dari rundown acara mereka, fiuh. Barulah kita cuussss!
Pukul 15.00 WIB kesoreaaann kaaliii Panitia~
Bismillah..
Berawal dari Ranu Pane, berjalan menuju pintu masuk Pendakian Semeru :)
Tracknya cukup lumayan, sekitar 3-4 jam perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Di awal menemukan track datar, di susul lebatnya pepohonan, dan jalanan separuh aspal separuh tanah, bingung kan? Yaap, disini aku banyak terpeleset, hingga menemukan Pos 2, lalu track mulai terlihat berkelok dan menanjak seiring terlihatnya Samudera di atas awan dari kejauhan, dan tibalah di Pos 3. Sepanjang perjalanan, akupun bersama adik-adik unyu berisitirahat sekedar meluruskan kaki sambil menghabisi cemilan :D
Pukul 19.00 WIB
Ranu Kumbolo
Setelah melalui pemanasan sekitar 4 jam mendaki, mulai terdengar suara rusuh, cahaya-cahaya kecil di sela pepohonan cemara, tibalah kami di Ranu Kumbolo. Meski ribuan bintang menyinari, udara di sini cukup membuat kaki aku beku, bibir beku, tetapi hati tidak beku *eeaa*
Sambil menunggu tenda jadi, akupun berduduk santai seolah tidak ada apa-apa jika mereka meminta bantuan ku untuk memasak, hihi. Menikmati ribuan bahkan jutaan bintang yang tidak terhitung dan ternilai keindahannya, hai Ranu Kumbolo, aku tiba :)
Tenda sudah berdiri, aku langsung menelusup ke dalamnya untuk segera memasak dan menghangatkan diri, lalu tidur yang cukup.
Kekecewaan selanjutnya adalah disini kita masak sendiri-sendiri dan tidak di fasilitasi oleh TM :)
29 Mei 2014
Pagi hari di Ranu Kumbolo
Tracknya cukup lumayan, sekitar 3-4 jam perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Di awal menemukan track datar, di susul lebatnya pepohonan, dan jalanan separuh aspal separuh tanah, bingung kan? Yaap, disini aku banyak terpeleset, hingga menemukan Pos 2, lalu track mulai terlihat berkelok dan menanjak seiring terlihatnya Samudera di atas awan dari kejauhan, dan tibalah di Pos 3. Sepanjang perjalanan, akupun bersama adik-adik unyu berisitirahat sekedar meluruskan kaki sambil menghabisi cemilan :D
Pukul 19.00 WIB
Ranu Kumbolo
Setelah melalui pemanasan sekitar 4 jam mendaki, mulai terdengar suara rusuh, cahaya-cahaya kecil di sela pepohonan cemara, tibalah kami di Ranu Kumbolo. Meski ribuan bintang menyinari, udara di sini cukup membuat kaki aku beku, bibir beku, tetapi hati tidak beku *eeaa*
Sambil menunggu tenda jadi, akupun berduduk santai seolah tidak ada apa-apa jika mereka meminta bantuan ku untuk memasak, hihi. Menikmati ribuan bahkan jutaan bintang yang tidak terhitung dan ternilai keindahannya, hai Ranu Kumbolo, aku tiba :)
Tenda sudah berdiri, aku langsung menelusup ke dalamnya untuk segera memasak dan menghangatkan diri, lalu tidur yang cukup.
29 Mei 2014
Pagi hari di Ranu Kumbolo
Setelah berlari-larian kecil, untuk menghangatkan badan hingga matahari absen di Ranu Kumbolo. Aku pun mengajak adik-adik unyu untuk mau keluar tenda dan menikmati pagi hari ini. Berjalan-jalan bersilaturahmi ke tenda sebelah, tenda belakang, barangkali ada yang menawarkan sarapan *lagilagi aku malas memasak :D
Laluuuuu dari kejauhan tampaklah sebuah warna unyu~
Ungu?
Apa itu bunga lavender?
Ungu?
Apa itu bunga lavender?
Subhanallah, aku bisa melihat bahkan menggenggam mu, Lavender~
Bunga Lavender adalah bunga ke-dua setelah Bunga Edelweis yang selalu menarik perhatian para pendaki. Bunga ini ada di Ranu Kumbolo dan Oro oro ombo pada musim panas, sekitar bulan Juni-Juli. Aku makhluk Allah yang beruntung bisa melihatnya pada pendakian pertama di Mahameru.
09.30 WIB
Ranu Kumbolo menuju Kalimati
Are you ready, Momon?
Hai Ranu Kumbolo,
Aku hanya pergi sebentar menuju Puncak Mahameru,
Terima kasih telah memberikan aku kehangatan tadi malam
Doa'kan aku :3
Kekuatan langkah kaki dan hati akan menemukan ujian berikutnya, Tanjakan Cinta.
Menurut budaya dan gosip film 5 cm, siapa yang menyebutkan nama kekasih hingga atas Tanjakan Cinta, akan menemukan Cinta Sejatinya.
Aihh~ tanjakannya begitu manja, memaksa aku untuk berhenti sekedar mengatur nafas. Hohss hosshh, mau nengok pake banget, karena pemandangannya seindah ini, Subhanallah.
Mamah, anak mu akan segera menemukan cinta sejatinya~ yakaalliii delv --,
Miss you always Lavender~
Aku terlihat tinggi ya di sini, aktualnya Lavender ini jauh lebih tinggi, ppftt
Mandalawangi
Gunung Pangrango merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung Pangrango mempunyai ketinggian setinggi 3,019 meter. Puncaknya dinamakan Mandalawangi.
Gunung Pangrango juga merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai, dan berada di dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango, tepatnya terletak persis bersebelahan dengan Gunung Gede.
22 Juni 2014
Selamat Pagi Mandalawangi~
![]() |
| Sang Surya, terima kasih telah memberikan kehangatan di sela bekunya udara Mandalawangi |
![]() |
| Hallo, Momon, yang selalu ku bawa kemanapun aku berjalan mencari sejuta keindahan Indonesia |
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah urutan pertama Gunung yang aku sukai. Selain Gunung Gede yang menjadi pilihan pertama kalinya aku menyukai hobi mendaki, Gunung Pangrango juga menjadi impian untuk ku raih dengan keanggunan Mandalawangi. Hanya saja track menuju 3.019 mdpl sunggulah berbeda dengan Gunung Gede. Track penuh tanjakan dengan sedikit bonus, ditambah dengan aroma kelembaban hutan yang jelas sekali berbeda dengan Gunung lainnya.
Mandalawangi~
Berhasil aku datangi dengan air mata (tangisan manja kedua kalinya ketika naik gunung, setelah Mahameru, hihi)
Kamis, 14 November 2013
Oleh-oleh Papandayan
Baiklah, karena saya terlalu sibuk mengurusi kehidupan hati, cukuplah oleh-oleh nya saja dari Mt. Papandayan, uhuk !
Me and My best friends in Office, Anggar :)
Keriweuhan di tenda~
Cuaca saat itu hujan, jadi jemur jaket ditenda bukanlah solusi ! Makin lembab :/
Hello, Carriel Sobek :3
Kami memang lucu
Hutan mati serasa hidup bila bersama kalian Carriel Sobek :.)
Menuju jauh sudahlah selesai, saatnya kembali pulang untuk tahu siapa yang paling merindukan kita *ikutan gayanya menuju jauh dek vio*
Thankyou Mt. Papandayan ~
-D-
Langganan:
Postingan (Atom)


























